Posted Sabtu, 28 Agustus 2010 by Dea Mentari Dini
Bocah Yang Mengaku Dari Mars, Belum lama ini, pesawat penjelajah antariksa Amerika dan Eropa secara berturut-turut berhasil mendarat di Mars, tujuannya adalah hendak mencari tanda-tanda kehidupan di planet itu.

Menurut laporan Truth Report Rusia pada tanggal 12 Maret 2004, disebutkan bahwa seorang anak lelaki berusia 7 tahun di kawasan utara Rusia mengaku dirinya berasal dari Mars, bahkan memiliki bakat bawaan yang menakjubkan dan kepandaian yang luar biasa. Borischa, demikian nama bocah dari planet lain itu melakukan perjalanan yang jauh dan sulit hingga tiba di kawasan yang penuh dengan misteri itu.



Harian itu melaporkan, bahwa seorang saksi mata mengatakan, saat itu di suatu malam yang hening, orang-orang yang berkemah duduk di hadapan api unggun berbincang-bincang. Tiba-tiba, Borischa berdiri membungkukkan badan, dengan suara nyaring membangkitkan perhatian setiap orang, semua orang dengan perasaan tertarik memandanginya. Saksi mata mengatakan: "Ternyata, ia bermaksud memberitahu kepada mereka tentang kehidupan penduduk di planet Mars, serta pengalaman legendaris mereka terbang menuju bumi." Dalam sekejap itu, lokasi api unggun tenggelam dalam kesunyian.

Dan yang lebih fantastis lagi adalah, bocah laki-laki ini bahkan secara hidup menceritakan tentang daratan misterius Limoliya yang tenggelam di dasar laut dalam legenda kuno manusia. Dan menurut penuturan bocah laki-laki ini, ketika ia tiba di bumi dari planet Mars persis mendarat di sana, dan memahami sekali kehidupan di sana.



Banyak orang secara mengejutkan menemukan, bahwa bocah laki-laki misterius ini sedikitnya memiliki 2 ciri khas. Pertama, Borischa memiliki pengetahuan yang luar biasa, inteligensinya jelas lebih tinggi levelnya daripada seorang bocah biasa sebayanya. Limoliya adalah negeri misterius dalam legenda minimal 800 ribu tahun silam, jangankan anak-anak, bahkan profesor universitas pun mustahil semuanya bisa tahu, dan ia secara terperinci dan dengan paham sekali menceritakan sejarah, kebudayaan dan penduduk negeri yang kuno ini. Dan ciri khas kedua yang menimbulkan perhatian adalah, bocah laki-laki ini memiliki kemampuan penyampaian dengan bahasa yang membuat orang kagum. Ia menguasai berbagai macam istilah kejuruan, memahami data-data dengan tepat dan cermat, bahkan mengetahui secara jelas tentang sejarah bumi dan planet Mars.

Seorang saksi mata mengatakan, "Manurut saya, ketika bocah ini membicarakan memori pribadi dari kehidupan terdahulu pada kami, bukan bicara sembarangan dan tidak berdasar."

Menurut laporan, Borischa yang misterius lahir di sebuah rumah sakit di pedesaan terpencil di kota kecil Rusia pada tanggal 11 Januari 1996. Secara permukaan terlihat orang tuanya cukup bersahaja, lugu dan baik hati. Ibunya, Nadezhda adalah orang baik, seorang dokter kulit di sebuah rumah sakit umum. Sedangkan ayah sang bocah adalah seorang pensiunan perwira tentara.

Nadezhda mengenang, setelah 15 hari kelahiran, Borischa sudah bisa menengadahkan kepalanya. Namun, yang menakjubkan adalah ketika ia berusia 1,5 tahun sudah bisa membaca dan memahami judul berita yang ada di koran. Dan 2 tahun kemudian, Borischa memiliki daya ingat yang luar biasa, serta kemampuan menguasai pengetahuan baru yang sulit dipercaya. Kemudian, dengan cepat orang tuanya mengetahui, bahwa anak mereka dengan suatu cara yang unik --dari suatu tempat yang misterius-- mendapatkan informasi.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVfh-Gc8nLopINlQJ9F0pa66xZc7mcOsc8fOsuxHWsrtMjO5ssbrqKAqvBWCElCSH1-QjtaGPR8LpNx38IwDAniHdM71t5BBketpl0zxMuTkYoyYHSJB4K3Akg-rlgaXE-7re1odp7Wqk/s400/mars.jpg

Nadezhda mengenang kembali dan mengatakan: "Tidak pernah ada orang yang mengajarinya tentang hal-hal itu, namun kadang kala ia melipat kaki dan duduk menyilang, bicara dengan tenang dan penuh keyakinan akan hal-hal yang merawak rambang. Ia suka bicara tentang planet Mars, sistem planet, dan peradaban yang sangat jauh sekali. Kami benar-benar tidak berani percaya dengan pendengaran kami. Sejak usia 2 tahun, setiap hari ia seperti membaca kitab suci membicarakan tentang alam semesta, dan kisah dunia lainnya yang tak terhitung banyaknya juga tentang angkasa yang tiada batasnya."

Sejak saat itulah, Borischa terus berkata pada orang tuanya, bahwa dulu ia tinggal di planet Mars. Ketika itu, ada sejenis manusia tinggal di planet Mars, oleh karena terjadi sebuah bencana dahsyat yang mematikan, lapisan atmosfer di atas planet Mars lenyap total, sehingga penduduk di atas planet Mars itu terpaksa harus hidup di kota bawah tanah. Dan sejak itu, ia sering keluar berdagang dan berkunjung ke bumi dengan tujuan mengadakan penelitian, lagi pula ia hanya seorang diri mengendarai pesawat antariksa.

Menurut penuturan Borischa, bahwa semua ini terjadi pada masa makmur peradaban Limoliya. Waktu itu, ia memiliki seorang sahabat karib di Limoliya, namun temannya ini tewas di hadapannya. Borischa mengenang kembali dan mengatakan: "Waktu itu, di atas bumi telah terjadi suatu bencana dahsyat, sebuah daratan yang mahabesar bagaikan ditelan oleh hujan badai laut. Tiba-tiba, sebuah batu raksasa menghantam sebuah bangunan, dan secara kebetulan teman saya berada di sana, saya sama sekali tidak sempat menyelamatkannya." Dengan hidup bocah laki-laki ini menceritakan seluruh pemandangan hilangnya Limoliya, bagaikan baru terjadi kemarin.

Borischa mengatakan, bahwa pesawat ulang-alik mereka, hampir dalam sekejap telah rampung dalam suatu perjalanan sejak tinggal landas dari planet Mars hingga mendarat di bumi. Bersama itu, ia mengeluarkan sebatang kapur tulis dan melukis sebuah benda yang berbentuk bulat di atas papan tulis. Ia mengatakan: "Pesawat ruang angkasa kami dibentuk dari 6 lapisan, lapisan luar mendominasi 25%, dibuat dari metal yang kokoh. Lapisan ke-2 mendominasi 30%, dibuat dari bahan yang menyerupai karet. Lapisan ke-3 mendominasi 30%, juga terbuat dari metalc dan lapisan terakhir hanya mendominasi 4%, dibuat dari bahan magnetisme khusus. Jika kami mengisi penuh energi pada lapisan magnetisme ini, maka pesawat ruang angkasa bisa terbang menuju ke mana pun di alam semesta ini."

Dengan agak serius Borischa juga memrediksi dan mengatakan, bahwa pada tahun 2009 akan terjadi bencana besar yang pertama kalinya di sebuah daratan di atas bumi, dan bencana kedua kalinya yang lebih menghancurkan lagi akan terjadi pada tahun 2013 .

sumber : zona-orang-gila.blogspot.com

Godaan Saat Puasa

Posted by Dea Mentari Dini
Hari ini udah direncanain bahwa saya akan pergi ke mog liat jumpsuit di Number 61. (tenang aja pak satpam, saya gak bawa kamera kok!). Whuuaaaah! awalnya sih seneng, liat baju dari satu toko ke toko lain (padahal kagak beli apa-apa). Tapi pas di lantai satu, iman saya mulai diganggu denganaroma roti boy yang mak jleb! bikin ngiler dan pengen beli selusin buat dimakan langsung di tempat (saya rakus). Tapi saya tidak akan tergoda semudah itu men! Hahaha.

Kemudian pas mau liat dress, keluar dari sana ada lagi tempat makan baru (baru liat, xixixi) yang menggoda banget. Kebetulan saya suka banget sama kentang goreng, tapi kan saya lagi halangan boy. At last, kagak jadi dan cuma ngelampiasin rasa laper dengan, "aaaaaa aku lapeeeeerrr....." kayak gembel yang ngga dikasi makan majikannya selama seminggu. MIRIS BANGET.

Udah deh, kapok jalan-jalan ke mal waktu siang bolong begini.
-,-

Hari ini...

Posted Sabtu, 21 Agustus 2010 by Dea Mentari Dini
Haduh, saya benar2 berterimakasih sama Tuhan karena saya masih bisa hidup di dunia ini.
Terimakasi Allah... :)
Engkau-lah zat yang selalu melindungiku.

Semakin suka bunga

Posted Selasa, 17 Agustus 2010 by Dea Mentari Dini
bunga....bunga....
sapa sih yang ngga sukaaa..........?
rencananya nanti saya ingi menyulap taman yang ada di depan rumah saya dengan tanaman-tanaman bunga yang indah-indah.. hehe, sempga saya bisa merawatnya dengan baik.
Hohoo.....
bangga juga klo ada temen yang maen ke ruma terus nanya "ini yang ngerawat sapa de?" pastinya aku dong. Hohoho sombong banget deh.. hahaha
Pokoknya semangat deh buat proyek bunga yang ini! :D

Pertukaran Pelajar

Posted by Dea Mentari Dini
Hoooooh...
Entah kenapa sejak saya pindah sekolah ke SMAN 1 Malang saya merasa sangat tertarik dengan program pertukaran pelajar seperti AFS. Sangat menarik bagi saya dan program ini benar-benar positif sekali :) Sapa dong yang gamau jalan-jalan ke luar negeri gratis?? hehehe.

Dengan adanya program ini dapat mengangkat nama BANGSA INDONESIA si mata dunia, bahwa manusia Indonesia juga mampu bersaing secara Internasional. Saya sangat tertarik sekaligus ingin mencoba program seperti ini.


Oia, kebetulan di bulan November nanti akan ada lomba bahasa Jerman. Waaaa
h! Mumpung nih, ada bidang bahasa yang saya gemari di perlombakan (saya memang anak jurusan bahasa di SMAN 1 Malang). Saya ingin ikut dan mencoba keberuntungan saya. Siapa tau bisa sampai dikirim ke Jerman hehehe (AMien! Ya Allah). Nah, maka dari itu saya harus persiapkan ini sedini mungkin, saya harus bisa sampai Jerman! Saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa berprestasi dan bersaing dengan pelajar Indonesia yang lain. Ya Allah beri saya keberuntungan sedikit saja agar saya bisa sampai ke Jerman. hehehe... kayaknya jadi ngarep banget nih kesannya. Tapi gapapalah, namanya juga orang kepingin. hihihi...


GO JERMAN GO! :D

Ibuku Peri Bunga

Posted Kamis, 27 Mei 2010 by Dea Mentari Dini

Ibu… Ibu adalah selimut hatiku, dia adalah orang terkasih dalam hidupku. Aku menyayanginya. Sangat menyayanginya. Ada satu hal yang sangat melekat kental dalam dirinya. Bunga. Ibu suka dengan bunga, ibu adalah penggemar berat bunga. Ada banyak macam bunga yang ia tanam. Mawar, melati, lily, dan entahlah masih banyak lagi. Wajahnya selalu tersenyum ketika menatapi satu per satu bunganya yang bermekaran di halaman belakang rumah. Dia tampak … cantik.

Sedari kecil dia sudah suka menanam bunga karena orang tuanya seorang pedagang bunga. Aku bisa mengerti dari mana kelembutan hatinya itu berasal. Dari bunga-bunga itu, dari bunga-bunga yang ia selalu rawat dan ciumi ketika sedang bermekaran.

“Akan sangat disayangkan bila bunga ini harus mati karena kupetik.”, pikirnya ketika ia berencana untuk memetik beberapa tangkai bunga untuk dipindah ke vas sebagai hiasan ruang tamu.

Tepat bukan apa yang aku telah katakan? Dia terlalu lembut hatinya. Bahkan untuk memetik setangkai bunga saja ia tak tega. Aku juga mengerti kenapa ayah begitu mencintainya. Ibu sangat cantik dan berhati lembut. Jikalau aku dapat istri sepertinya. Ayah memang beruntung bisa menikah dengan ibu.

Ayah adalah seorang dokter. Dokter umum yang sangat ramah kepada pasien-pasiennya. Ayah bertemu ibu ketika ibu sedang mengantar nenek yang sedang sakit gigi. Disinilah ayah mulai jatuh cinta kepada ibu. Ibu yang ketika itu memakai dress bermotif bunga dan sebuah jepit rambut berbentuk bunga tulip warna biru. Rambutnya yang halus lurus terurai panjang dan indah.

“Seperti bidadari surga.”, kata ayah kepadaku.

Akhirnya ayah menikah dengan ibu di sebuah gereja yang sangat indah di tepian pantai. Betapa beruntungnya ayah menikahi wanita seperti ibu. Pernikahan ayah dan ibu selalu baik dan harmonis. Tak pernah ada pertengkaran hebat di antara mereka. Hal ini membuat aku begitu mencintai keluargaku. Lucunya, terkadang ada-ada saja temanku yang bertanya bagaimana caranya bisa mempunyai orang tua seharmonis ayah dan ibu. Hal ini juga membuatku merasa bangga bisa menjadi anak dari ayah dan ibu.

Suatu hari teman ibu yang kuliah di Belanda mengiriminya sepucuk surat beserta fotonya ketika teman ibu berfoto disebuah taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna-warni. Ketika ibu melihat gambar-gambar yang ada di foto itu, ibu tercengang. Ia kagum,

“Ya Tuhan, aku tak pernah menyangka jika ada taman bunga seindah ini di Belanda. Andai aku dapat kesana.”, kata ibu.

Namanya Taman Bunga Keukenhof. The most beautiful spring garden in the world. Begitu orang-orang bule mengatakan. Ayah yang mengetahui reaksi ibu saat itu merasakan betapa inginnya ibu pergi kesana melihat hamparan bunga yang luas sedang bermekaran. Namun saat itu memang sulit untuk mewujudkan keinginan ibu. Karena ayah juga sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya karena naik jabatan menjadi kepala rumah sakit.

Setahun kemudian setelah ibu menerima surat itu, ibu akhirnya melahirkan anak pertamanya. Siapa? Itu aku. Anak laki-laki sekaligus anak tunggal ayah dan ibu. Aku mengikuti jejak ayah dibidang kedokteran. Bukan karena paksaan, tapi karena aku memang ingin menggelutinya. Sampai aku menikah dengan seorang suster yang ramah dan cantik bernama Maria. Suster Maria. Namanya seperti lagu nostalgia yang biasa ayah dendangkan di sore hari.

Aku dan Maria hidup harmonis dan bahagia. Sampai akhirnya kesedihan melanda kami. Ayah pergi untuk selama-lamanya. Ayak meninggal karena jantung koroner. Kematian ayah membawa kesedihan yang mendalam bagi ibu.

“Aku tak tega melihat ibu terus menerus terpuruk seperti ini,”, kata istriku beberapa hari setelah ayah meninggal.

“Bagaimana jika ibu tinggal bersama kita? Rumah ini biar dikontrakkan saja.”, katanya lagi.

“Baik, biar aku yang bicara pada ibu.”

Akhirnya ibu bersedia tinggal bersama kami setelah susah payah aku membujuknya. Ayah memang sangat berarti bagi ibu. Tetapi kesedihan ibu kian lama kian terobati setelah kehadiran anak pertamaku. Ibu sangat memanjakannya.

Namun ketika anakku berumur 5 tahun, ibu mendadak sakit keras dan harus opname di rumah sakit. Ketika aku dan sekeluarga menjenguk, ibu menyampaikan sebuah keinginannya yang terakhir sebelum ia pergi.

“Tolong bawa aku ‘kesana’ untuk pertama dan terakhir kalinya. The first and the last time.”

Pada akhirnya di bulan April saat musim semi di Eropa, aku, istriku dan juga ibu naik pesawat menuju negeri mantan penjajah bangsa kita. Anakku aku titipkan kepada adik Maria untuk sementara ketika akami sedang pergi. Karena ia terlalu kecil untuk bisa pergi jauh. Dari Indonesia menuju Belanda naik pesawat memerlukan waktu sekitar 10 jam. Waktu yang cukup lama untuk membuatku tertidur selama 6 jam perjalanan.

11.30 malam waktu Belanda. Kami beristirahat di sebuah penginapan tak jauh dari bandara. Tubuh ibu semakin lemas karena perjalanan yang panjang di pesawat. Akhirnya ku gendong ibuku sampai kamar dan merebahkannya di ranjang.

Saat keesokan harinya ketika badan ibu mulai kuat untuk berjalan lagi. Aku, istriku, dan ibu pergi ke taman terindah itu naik mobil yang kami sewa. Dari wajahnya, aku melihat bahwa ibu sudah tak sabar melihat surga kecilnya itu dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah taman bunga tulip yang selalu ia idolakan sejak ia muda sampai sekarang.

Akhirnya sampailah kami di taman seribu tulip. Keukenhof. Yang artinya dapur bunga, nama yang aneh bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hamparan bunga yang luas, penuh dengan bunga yang warna-warni. Disana ada sebuah danau yang dimana kita bisa berjalan di atasnya, selain itu ada sekumpulan angsa yang berenang di tengah danau. Dipinggiran danau yang lain itu ada air mancur yang cukup besar menyegarkan mata yang melihat . Ada pohon-pohon yang besar dan tinggi, dikelilingi sekumpulan bunga tulip berwarna-warni. Aku tercengang, aku kagum, aku menjadi… speechless. Oh bagaimana ibu tidak mengagumi taman yang megah ini? Ketika aku sadari, air mata ibu menetes menunjukan betapa bahagianya ia dapat mengunjungi taman impiannya. Bunga-bunga yang bermekaran itu, ketika ia sentuh dengan lembut dan ia cium wanginya. Ibu tampak seperti peri bunga.

Kami duduk di pinggir danau menikmati ketenangan yang ada di taman itu. Namun kemudian ia menyandarkan kepalanya di pundak istriku. Ibu membisikkan sesuatu kepada istriku, sepertinya ia berpesan sesuatu. Maria hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Hingga akhirnya ibu menutup matanya. Mungkin karena lelah jadi ia ingin beristirahat sejenak. Beberapa saat kemudian, Maria mencoba membangunkan ibu. Tapi ibu tak kunjung sadar juga. Maria panik, kemudian aku langsung menghampirinya.

“Ada apa?!”

“Ibu…!Ibu…!”

“Ya Tuhan…! Ada apa dengan ibu?!”

“Aku tak tahu, setelah membisikkan sesuatu kepadaku, ibu…ibu…”, istriku langsung terisak-isak.

“Ya Tuhan….! Ibu sudah tidak ada… Ibuku….!!”

Begitulah ibu meninggal. Kami sungguh tak menyangka akan secepat ini. Padahal aku baru akan mengajaknya membeli bunga. Ibu meninggal dalam kebahagiaan. Ibu meninggal di dekat orang-orang yang sangat menyayanginya. Ibu… damailah disana. Semoga ibu selalu bahagia bersama Tuhan. Semoga peri-peri bunga itu selalu menemani ibu di surga. Ayah, jika ayah bertemu dengan ibu di surga, hiduplah kalian dalam kebahagiaan yang abadi. Semoga ayah dan ibu selalu mendapat ketenangan. Aku disini akan selalu mengenang sosok kalian berdua. Orang tua yang sangat mengasihiku, dan mendidiku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku berjanji akan mendidik anakku seperti kalian mendidikku. Aku berjanji akan selalu setia bersama istriku sampai ajalku tiba. Aku tidak akan melupakan ayah dan ibu selama-lamanya. Lain kali kita akan bertemu lagi di kehidupan yang abadi.

Di MOG

Posted Minggu, 16 Mei 2010 by Dea Mentari Dini
Kemarin sial banget deh gue! Hiks! Salah sendiri juga sih pake foto-foto segala di dalem mall MOG. Abis ngga tau sih kalo ngga boleh motret. Ya.ampun dungu banget sih ?! Hahaha..
Jadi ditegur deh ama securitynya.. Okelah buat bapak yang ada disana. Mohon maap yaaak..
Lain kali saya ngga bakal ngulangin koook. Hehehe..
Sepurone nggeh pak. Terima Kasih sudah nggak nangkep saya waktu itu. Hihihi!