Ibuku Peri Bunga

Posted Kamis, 27 Mei 2010 by Dea Mentari Dini

Ibu… Ibu adalah selimut hatiku, dia adalah orang terkasih dalam hidupku. Aku menyayanginya. Sangat menyayanginya. Ada satu hal yang sangat melekat kental dalam dirinya. Bunga. Ibu suka dengan bunga, ibu adalah penggemar berat bunga. Ada banyak macam bunga yang ia tanam. Mawar, melati, lily, dan entahlah masih banyak lagi. Wajahnya selalu tersenyum ketika menatapi satu per satu bunganya yang bermekaran di halaman belakang rumah. Dia tampak … cantik.

Sedari kecil dia sudah suka menanam bunga karena orang tuanya seorang pedagang bunga. Aku bisa mengerti dari mana kelembutan hatinya itu berasal. Dari bunga-bunga itu, dari bunga-bunga yang ia selalu rawat dan ciumi ketika sedang bermekaran.

“Akan sangat disayangkan bila bunga ini harus mati karena kupetik.”, pikirnya ketika ia berencana untuk memetik beberapa tangkai bunga untuk dipindah ke vas sebagai hiasan ruang tamu.

Tepat bukan apa yang aku telah katakan? Dia terlalu lembut hatinya. Bahkan untuk memetik setangkai bunga saja ia tak tega. Aku juga mengerti kenapa ayah begitu mencintainya. Ibu sangat cantik dan berhati lembut. Jikalau aku dapat istri sepertinya. Ayah memang beruntung bisa menikah dengan ibu.

Ayah adalah seorang dokter. Dokter umum yang sangat ramah kepada pasien-pasiennya. Ayah bertemu ibu ketika ibu sedang mengantar nenek yang sedang sakit gigi. Disinilah ayah mulai jatuh cinta kepada ibu. Ibu yang ketika itu memakai dress bermotif bunga dan sebuah jepit rambut berbentuk bunga tulip warna biru. Rambutnya yang halus lurus terurai panjang dan indah.

“Seperti bidadari surga.”, kata ayah kepadaku.

Akhirnya ayah menikah dengan ibu di sebuah gereja yang sangat indah di tepian pantai. Betapa beruntungnya ayah menikahi wanita seperti ibu. Pernikahan ayah dan ibu selalu baik dan harmonis. Tak pernah ada pertengkaran hebat di antara mereka. Hal ini membuat aku begitu mencintai keluargaku. Lucunya, terkadang ada-ada saja temanku yang bertanya bagaimana caranya bisa mempunyai orang tua seharmonis ayah dan ibu. Hal ini juga membuatku merasa bangga bisa menjadi anak dari ayah dan ibu.

Suatu hari teman ibu yang kuliah di Belanda mengiriminya sepucuk surat beserta fotonya ketika teman ibu berfoto disebuah taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna-warni. Ketika ibu melihat gambar-gambar yang ada di foto itu, ibu tercengang. Ia kagum,

“Ya Tuhan, aku tak pernah menyangka jika ada taman bunga seindah ini di Belanda. Andai aku dapat kesana.”, kata ibu.

Namanya Taman Bunga Keukenhof. The most beautiful spring garden in the world. Begitu orang-orang bule mengatakan. Ayah yang mengetahui reaksi ibu saat itu merasakan betapa inginnya ibu pergi kesana melihat hamparan bunga yang luas sedang bermekaran. Namun saat itu memang sulit untuk mewujudkan keinginan ibu. Karena ayah juga sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya karena naik jabatan menjadi kepala rumah sakit.

Setahun kemudian setelah ibu menerima surat itu, ibu akhirnya melahirkan anak pertamanya. Siapa? Itu aku. Anak laki-laki sekaligus anak tunggal ayah dan ibu. Aku mengikuti jejak ayah dibidang kedokteran. Bukan karena paksaan, tapi karena aku memang ingin menggelutinya. Sampai aku menikah dengan seorang suster yang ramah dan cantik bernama Maria. Suster Maria. Namanya seperti lagu nostalgia yang biasa ayah dendangkan di sore hari.

Aku dan Maria hidup harmonis dan bahagia. Sampai akhirnya kesedihan melanda kami. Ayah pergi untuk selama-lamanya. Ayak meninggal karena jantung koroner. Kematian ayah membawa kesedihan yang mendalam bagi ibu.

“Aku tak tega melihat ibu terus menerus terpuruk seperti ini,”, kata istriku beberapa hari setelah ayah meninggal.

“Bagaimana jika ibu tinggal bersama kita? Rumah ini biar dikontrakkan saja.”, katanya lagi.

“Baik, biar aku yang bicara pada ibu.”

Akhirnya ibu bersedia tinggal bersama kami setelah susah payah aku membujuknya. Ayah memang sangat berarti bagi ibu. Tetapi kesedihan ibu kian lama kian terobati setelah kehadiran anak pertamaku. Ibu sangat memanjakannya.

Namun ketika anakku berumur 5 tahun, ibu mendadak sakit keras dan harus opname di rumah sakit. Ketika aku dan sekeluarga menjenguk, ibu menyampaikan sebuah keinginannya yang terakhir sebelum ia pergi.

“Tolong bawa aku ‘kesana’ untuk pertama dan terakhir kalinya. The first and the last time.”

Pada akhirnya di bulan April saat musim semi di Eropa, aku, istriku dan juga ibu naik pesawat menuju negeri mantan penjajah bangsa kita. Anakku aku titipkan kepada adik Maria untuk sementara ketika akami sedang pergi. Karena ia terlalu kecil untuk bisa pergi jauh. Dari Indonesia menuju Belanda naik pesawat memerlukan waktu sekitar 10 jam. Waktu yang cukup lama untuk membuatku tertidur selama 6 jam perjalanan.

11.30 malam waktu Belanda. Kami beristirahat di sebuah penginapan tak jauh dari bandara. Tubuh ibu semakin lemas karena perjalanan yang panjang di pesawat. Akhirnya ku gendong ibuku sampai kamar dan merebahkannya di ranjang.

Saat keesokan harinya ketika badan ibu mulai kuat untuk berjalan lagi. Aku, istriku, dan ibu pergi ke taman terindah itu naik mobil yang kami sewa. Dari wajahnya, aku melihat bahwa ibu sudah tak sabar melihat surga kecilnya itu dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah taman bunga tulip yang selalu ia idolakan sejak ia muda sampai sekarang.

Akhirnya sampailah kami di taman seribu tulip. Keukenhof. Yang artinya dapur bunga, nama yang aneh bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hamparan bunga yang luas, penuh dengan bunga yang warna-warni. Disana ada sebuah danau yang dimana kita bisa berjalan di atasnya, selain itu ada sekumpulan angsa yang berenang di tengah danau. Dipinggiran danau yang lain itu ada air mancur yang cukup besar menyegarkan mata yang melihat . Ada pohon-pohon yang besar dan tinggi, dikelilingi sekumpulan bunga tulip berwarna-warni. Aku tercengang, aku kagum, aku menjadi… speechless. Oh bagaimana ibu tidak mengagumi taman yang megah ini? Ketika aku sadari, air mata ibu menetes menunjukan betapa bahagianya ia dapat mengunjungi taman impiannya. Bunga-bunga yang bermekaran itu, ketika ia sentuh dengan lembut dan ia cium wanginya. Ibu tampak seperti peri bunga.

Kami duduk di pinggir danau menikmati ketenangan yang ada di taman itu. Namun kemudian ia menyandarkan kepalanya di pundak istriku. Ibu membisikkan sesuatu kepada istriku, sepertinya ia berpesan sesuatu. Maria hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Hingga akhirnya ibu menutup matanya. Mungkin karena lelah jadi ia ingin beristirahat sejenak. Beberapa saat kemudian, Maria mencoba membangunkan ibu. Tapi ibu tak kunjung sadar juga. Maria panik, kemudian aku langsung menghampirinya.

“Ada apa?!”

“Ibu…!Ibu…!”

“Ya Tuhan…! Ada apa dengan ibu?!”

“Aku tak tahu, setelah membisikkan sesuatu kepadaku, ibu…ibu…”, istriku langsung terisak-isak.

“Ya Tuhan….! Ibu sudah tidak ada… Ibuku….!!”

Begitulah ibu meninggal. Kami sungguh tak menyangka akan secepat ini. Padahal aku baru akan mengajaknya membeli bunga. Ibu meninggal dalam kebahagiaan. Ibu meninggal di dekat orang-orang yang sangat menyayanginya. Ibu… damailah disana. Semoga ibu selalu bahagia bersama Tuhan. Semoga peri-peri bunga itu selalu menemani ibu di surga. Ayah, jika ayah bertemu dengan ibu di surga, hiduplah kalian dalam kebahagiaan yang abadi. Semoga ayah dan ibu selalu mendapat ketenangan. Aku disini akan selalu mengenang sosok kalian berdua. Orang tua yang sangat mengasihiku, dan mendidiku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku berjanji akan mendidik anakku seperti kalian mendidikku. Aku berjanji akan selalu setia bersama istriku sampai ajalku tiba. Aku tidak akan melupakan ayah dan ibu selama-lamanya. Lain kali kita akan bertemu lagi di kehidupan yang abadi.

Di MOG

Posted Minggu, 16 Mei 2010 by Dea Mentari Dini
Kemarin sial banget deh gue! Hiks! Salah sendiri juga sih pake foto-foto segala di dalem mall MOG. Abis ngga tau sih kalo ngga boleh motret. Ya.ampun dungu banget sih ?! Hahaha..
Jadi ditegur deh ama securitynya.. Okelah buat bapak yang ada disana. Mohon maap yaaak..
Lain kali saya ngga bakal ngulangin koook. Hehehe..
Sepurone nggeh pak. Terima Kasih sudah nggak nangkep saya waktu itu. Hihihi!

Lomba Fotografi / Broadcasting

Posted Selasa, 11 Mei 2010 by Dea Mentari Dini
Tanggal 9-Mei-2010 kemarin secara kebetulan saya menang di perlombaan broadcasting yang diadakan oleh SMAN8 Malang..
huhuhu! Sungguh tidak percaya memang karena kala itu persaingannya cukup ketat dan mengingat saya mencari foto secara dadakan sehari sebelum perlombaan. Keren kan?! Hahaha!
Tapi syukur alhamdulillah deh bisa dapet juara the best art.. (bukan be des art luuuh!)
Berikut ini nih foto yang waktu itu saya lombakan , tapi ngga tau foto mana yang menang. hehehe!

"Keukenhof"

Posted Selasa, 04 Mei 2010 by Dea Mentari Dini

Wuuuoooo......!!
bagi sapa aja yang kagak tau tentang ini nama khususnya para cewek-cewek pecinta bunga, NYESEL DEEEEHHH...............!!
Soalnya ini itu salah satu nama taman bungan yang terbesar di Belanda dan view.nya kuuueeerrreeennn bangeeet!
hahahaha!

Suatu saat nanti aku pengen banget bisa ke sana. Sayangnya ini taman adanya di Belanda siiih! Kalo dibandingin sama yang ada di Selecta Batu mah kaga ada apa-apanyaaa...!
hohoh!
keren abis!

MURDER....!

Posted Selasa, 27 April 2010 by Dea Mentari Dini
Wow! Baru saja terjadi "PEMBUNUHAN BERANTAI" di kelas sayaaa.....!
Wuuoooo lebaaay...! hehehe!
Bukan pembunuhan siih! Cuma lebih tepatnya praktek membedah hewan.
Sebenernya sih ini kegiatan pembelajaran Biologi yang sebenarnya nggak ada di jadwal pelajaran hari selasa di kelas saya yaitu X.3.
Yang bener kant hari Rabu besok pak???!!
Yah., karena waktunya memang bisa dibilang mepet sih! jadi hari ini terpaksa harus kita lakukan pratikum dan besok langsung presentasii...!
Ada hewan vertebtata dan invertebrata yang di teliti, tapi aku tunjukin yang vertebrata aje yeee...!
Ini deeeh! foto yang secara live di ambil yang isinya "jeroan" hewan.

maap neeeh kalo gambarnya rada gaje!
Abis henponnya kurang mutakhir. hehehe!

Cerpenku

Posted Senin, 26 April 2010 by Dea Mentari Dini
R-A-N


Ada tiga orang sahabat. Ryo, Ari, dan Nety. Mereka semua kelas 2 SMA. Tapi ramenya… MasyaAllah! Apalagi si Ari, mbe…! Sukanya kalo ketawa tuh, gak liat sitkon! Asal ketawa aja. Udah gitu kenceng banget lagi! Kaya Pak Hendra yang di OB. Kalo Ryo itu… maniak PS, sukanya kalo maen PS tuh gak liat waktu. Makanya suka gak ngerjain pr. Si Nety, dia care banget sama temen-temennya. Tapi baru di putusin sama ceweknya, gara-gara sifatnya yang lembek banget di depan cewek. Kasian deh lu…!
Suatu pagi di sekolah, Ryo datang ke kelasnya dengan pasang muka panik langsung menghampiri dua temannya.
“DANGER…! DANGER…! DANGE…R!!” , ucap Ryo panik sambil gebrak-gebrak meja.
“Busyet dah loe! Kenapa sih?! Pagi-pagi udah ribut. Udah kaya buronan yang mo ketangkep a..ja!”, kata Ari heran.
“Adu…! Bisa mati deh gw…!!” , kata Ryo lagi.
“Tenang ma…n! Sabar! Loe tau gak sih, sabar itu subur… subur itu makmur… makmur itu damai… damai itu indah man! Oke! Slow man! Slow! Ada apaan?!” , kata Nety menenangkan Ryo sambil menepuk pundak Ryo.
“Gw belon ngerjain pe’er Fisika…?!!!”
“Dasar loe! Kebiasaan!” tegur Ari
“Wah… gawat loe! Lima menit lagi udah bel masik nih!” , kata Nety.
Tee…t! Tee…t! Bel masuk berbunyi.
“Aha…ha…hai…! Eh bego, gak usah nunggu ampe lima menit juga udah bel tuh! Selamat menjalani hukuman Den Ryo…!” , ledek Ari
Hihihi…! Dan bener apa kata Ari. Ryo langsung di hukum sama Pak Habibi sang guru Fisika.
“Berdiri di lorong! Dan jangan lupa bawa dua ember berisi air penuh! Dan pegang dengan tanganmu sampai bel istirahat!”, kata pak Habibi.
Te…t! te…t! Bel istirahat akhirnya berbunyi juga! Dan dengan begitu hukuman Ryo berakhir sudah. Di kantin, Ryo, Ari, dan Nety makan bersama sambil bergurau.
“Hua…ha…ha…ha…! Cacia…n de anak papi! Emang enak di hukum?!”, ketawanya Ari sampai terdengar di seluruh kantin.
“Ah! Tega lu prend! Masa’ lu tega ngetawain gw! Jahat loe! Duh, mana tangan gw pada pegel lage!”, kata Ryo.
“Lagian lu tuh! Jangan bisanya maen ps doank donk! Belajar gitu loh ndoel! Biar bisa pinter kaya gw!”, kata Nety sedikit sombong.
“Ye…! Dasar lu anak mami! Eh…eh… denger-denger ne! si Jodi tuh baru di putusin lho sama cewek barunya!”, bisik Ryo.
“Oh… Jodi playboy ituh?! Tumbenan! Biasanya… dia yang mutusin ceweknya!”, kata Ari.
“Yah… biarin aja kali Ri! Biar itu jadi pelajaran berharga buat dia. Supaya gak nginjek-nginjek harga diri cewek lagi!”, sambung Nety.
“Wuaduh…! Lagak lu sok care!! Skalian aja lu ikutan organisasi emansipasi wanita sono…! Biar jadi duta banci skalian! Hahaha…!”, ledek Ari.
“Sialan lo!”
Dan tiba-tiba mata Ryo tertuju pada seorang cewek manis dan nggak asing lagi buat dia dan dua sahabatnya. Alina, itu lho! Mantannya Nety.
“Eh… eh…! Alina nyet!”
“U…dah! Jangan di pelototin muluk! Ntar copot, copot deh tuh mata! Hahaha…!”, ledek Ari lagi.
“Du…lu… aja loe sia-sia’in!”, kata Ryo.
“Itu bukan gue yang nyia-nyia’in! Tapi karna gw di putusin!”, sesal Nety.
“Terang ajalah Net…Net…! Mana tahan Alina sama cowok cupu kaya lo!”, kata Ryo.
“Haha…! CUPU…W!! Masa’ dulu aja pas mo nembak Alina lo pake kencing segala di celana?! Hwahahahaha!!!!”, lagi-lagi Ari ngeledek Nety.
“Eh! Jangan sekate-kate lu ?! Enak aja gw ngompol… Lu kali tuh!”, ucap Nety membela diri.
Pulang sekolah mereka naik mobil Ryo. Maklum… Ryo anaknya Tajir sih! Gak heran kalo punya mobil pribadi.
Di jalan mereka ngeliat si Alina jalan sendirian. Terus si Ari ngegodain dia deh!
“Alina…! Cie, sendirian aja. Ini lho si Nety dari tadi nyariin! Bareng kita yuk!”, Rayu Ari.
“Duh! Apa-apa’an sih lo Ri!”, bisik Nety sewot.
“Emang nggak papa, gw ikut kalian?!”, kata Alina.
"Ya nggak papa lagi Al! Buktinya… gw fine-fine aja kok!”, kata Ryo sambil nyengir lebar.
“Yo! Jangan Yo! Pli…s!!!”, bisik Nety ke Ryo.
“U…dah! Lo diem deh! Ri…, buka pintunya!”
“Ciii….p !!”, kata Ari dengan lagaknya yang sok imut.
Akhirnya si Alina jadi juga nebeng si Ryo. So, Ari nyiasatin supaya Alina duduk berdua sama Nety. Jadi, di depan ada Ryo dan pak Supir, di tengah ada Nety dan Alina yang lagi malu-malu kucing, dan di belakang ada Ari yang sendirian sambil suit-suit untuk mantan pasangan yang lagi duduk di tengah.
“Suit…suit…lala…! Suit…suit…lala…! Suit…suit…lala… hu…!”, kata Ari.
“Apa’an sih lu Ri! Gila, loe!”, kata Nety
“Bodo! Dari pada garing gak ada yang ngomong!!”, ucap Ari nyindir.
Lalu beberapa detik kemudian, dengan malu-malu Alina mulai membuka percakapan. Tentunya ke Nety donk!
“E… Nety, apa kabar loe?”
“Ba…ik! Elo?”
“Sama… Oh iya, besok kalian dateng ya ke pesta Ultah gue! Nih undangannya. Gue harap kalian mau dateng ya?”
“Wah…! Pesta! Berarti makan-makan donk! Oke, pasti gue dateng kok Al! Don’t worry! Yakan Net…”, kata Ari
“Iya…iya…! Ah, elu mah pikirannya makan mulu’ kalo pesta!”
“Hahaha…! Oh ya, ini rumah loe kan Al…”, Tanya Ryo
“Iya… Oke guys, gue duluan ya! Eh, jangan lupa lho dateng ke pesta gue… dandan yang rapi yah…!”
“Waduh! Dandan… udah kaya banci aja!”, serobot Ari
“Oke deh! Bye… Al!!”, kata Ryo seraya melambaikan tangannya.

Di perjalanan, diam-diam Nety memikirkan apa yang harus dia kasih di hari ulang tahun Alina. Sampe rumahpun… dia tetep mikirin! Dan akhirnya sore ini dia memutuskan untuk pergi ke ‘Gift Shop’. Tentu aja beli kado buat Alina.
“Duh… enaknya kasih apa ya?”, kata Nety bingung sambil celingak-celinguk.
Dan tiba-tiba di pintu masuk, Nety ngliat Jodi si playboy. Dan Nety segera menyapa Jodi.
“Hai Jod!”
“Oh! Nety… hai juga!”
“By the way… lo ngapain ke sini?”
“Pake nanya lagi loe! Ya pastinya beli kado lah…!”
“Hehe…! Iya sih, tapi buat siapa?”
“Buat Alina, besokkan dia ulang tahun”
“Lo diundang juga…? Sama donk kalo gitu… gw juga lagi milih kado buat dia. Duh… bingung nih!”
“Ala…h! Sama mantan sendiri aja loe bingung!”
“Apa… gw kasih dia ini aja kali ya?”
“Apa’an tuh! … Wuah…! Bagus banget Net! Kalo Alina lo kasih ini, pasti dia bakal seneng banget deh! Percaya deh ma gw…”
“Thanks a lot ya Jod! Eh… gw mo ke kasir dulu ne… udah dulu ya!”
“Oke… bye…bye… friend!!”
Akhirnya… dateng juga hari yang paling di tunggu-tunggu Nety. Di depan kaca, dia dandannya rapi…h banget! Kuku di potong pendek, rambut disisir rapih pke gell segala, kmeja andalannya yang udah dicuci, dijemur, disetrika sampe licinpun udah siap pake, minyak nyunyung yang udah di pake 7 turunan warisan nenek moyangnya juga udah disemprotin ke keteknya masing-masing (ih jorok!), kacamata putih kesayangannya udah diusap pke obat khusus buat lensa, pokoknya prepare banget deh! Dan nggak lupa juga dengan kado spesialnya untuk Alina. Sebenarnya di pesta nanti Nety pingin banget ngajak Alina balik, alias pacaran lagi. Tapi, Alinanya mau nggak ya?
Di pesta, Nety bingung banget harus ngomong apa ke Alina selain ngucapin “Selamat Ulang Tahun”. Tapi… kenapa musti malu? Kan sama-sama manusia…!
“Al… Selamat Ulang taun ya…?”, kata Nety
“Makasih ya Net…”
“Nih, ada kado buat elo…”
“Apa’an nih! Gua buka sekarang boleh gak?!”
“Boleh!”
“Whaw…! Bagus banget, kalung angel! Makasih banget ya Net!”
“Iya… boleh… gw pasangin nggak?!”
Tanpa sadar… wajah Nety sama Alina jadi deket… deket ba…nge…t!
“Makasih ya Net, udah mau masangin kalungnya”
“You’re welcome. Al… sbenernya ada hal yang pengen banget gua ungkapin ke elo”
“Apa?”
“Gue… em… gue… gue…”
“Apa’an sih Net! Kalo lo nggak ngomong-ngomong… ntar keburu subuh lho!”
“Ah elo Al! Jadi gini…”, sejenak Nety menghela nafas dalam-dalam untuk menghilangkan sedikit kegugupannya.
“Gue minta balik! Loe mau gak jadi pacar gue… LAGI?”
“Serius…?”
“Duarius kalo loe mau!”
“Well… sbenernya gw pengen banget kita kaya dulu lagi… tapi, tiga hari lagi gue bakalan pindah ke Jakarta… Sorry ya, gue gak bisa nerima loe.”
“Kenapa?”
“Ya… karena gue bakal pindah keluar kota… So, kita sahabatan aja. Tapi gw janji kok bakalan sering-sering sms elo, telpon-telpon elo, dan kirim-kirim e-mail.”
“Jadi gitu ya? Jadi… lo gak bakal balik lagi ke sini donk!”
“Ya pastinya balik lah…! Mungkin pas liburan aja gw main-main ke sini.”
“Tapi jangan lupa sama janji yang tadi lho!”
“Iya… pasti gue bakal sesering mungkin menghubungi elo kok…”
Yah… begitulah. Akhirnya Alina jadi juga pergi. Dan pastinya, itu bakal ninggalin kenangan manis buat Nety antara dia dan Alina. Di bandara, Nety dkk. Melepas kepergian Alina. Si Ari tuh, yang nangisnya paling jorok! Pake ingusan segala lage! Pokoknya jorok deh!
“Eh, Ri! Yang bener aja lo! Masa nangis aja sampe kaya gitu? Malu-malu’in tauk!”, tegur Ryo
“Huwa…! Abis gimana lage me…n! mata gw serasa kena bawang bombay tau gak?!!”
“Iya…tapi kaos mahal gw kena ingus loe nih! Ih gokil lu ye?! Jorok banget!”
“Al… jaga diri baik-baik ya disana. Lo jangan lupa, kalo udah sampe telpon gue… oke!”, kata Nety
“Of course, dan lo juga kudu jaga diri baek-baek ya Net. Jaga diri loe… buat gue.”

Sinopsis Drama di SMAN 7 Malang | Komplek Artis

Posted by Dea Mentari Dini

Suatu malam, terlihat ada dua orang pemuda dengan bajunya yang serba hitam berdiri dibalik pagar seng dan terlihat sedang bercakap-cakap. Kelihatannya mereka adalah sekelompok orang jahat, karena terlihat jelas sekali dari penampilan dan raut mukanya yang garang itu. Lalu kemudian mereka turun dari pagar seng itu dan keluar dengan menggotong tubuh seorang lelaki bernama Suheri. Tubuh Suheri bengkak penuh memar dan ada bercak-bercak darah dibajunya. Kelihatannya Suheri telah dipukuli oleh kedua orang itu.

Sesaat kemudian, terdengar suara ribut-ribut dari arah sebuah rumah yang tak jauh dari tempat tubuh Suheri tergeletak. Rupanya suara April dan Daus yang sedang bertengkar. April melempari Daus dengan sandal hingga Daus terlempar keluar. Di tengah malam yang sepi itu Daus hanya sendiri. Tubuhnya gemetar karena ketakutan, dan tiba-tiba ia dikejutkan ketika melihat tubuh Suheri yang tergeletak tak jauh dari tempat ia berdiri. Karena panik, Daus berlari terpontang-panting menuju ke rumah tadi memanggil-manggil April.

April pun tak kalah terkejutnya dengan Daus. Kemudian mereka memanggil teman-teman yang lain untuk menolong Heri. Melihat keadaan Heri yang mengenaskan seperti itu, Daus lalu mengusulkan kepada teman-temannya untuk pergi kabur dari komplek kumuh yang mereka tinggali itu. Tapi tiba-tiba April teringat dengan dua orang temannya lagi yang belum tampak batang hidungnya. Kemudian mereka semua mencari-cari di mana keberadaan Amin dan Didan tersebut. Setelah beberapa saat, ditemukanlah kemudian mereka berdua di sebuah drum milik Pertamina itu. Rupanya Amin dan Didan ketakutan ketika mereka dipukuli oleh kedua orang jahat itu tadi.

Kemudian mereka semua berkumpul dan merencanakan sesuatu agar bisa kabur dari komplek kumuh yang mereka tinggali. Kemudian muncullah sebuah siasat yaitu Amin dan April menyamar menjadi hantu untuk menakut-nakuti salah satu penjahat dan Daus menyamar menjadi perempuan untuk mengelabui penjahat yang satu lagi. Ketika kedua penjahat itu jatuh pingsan, digotonglah mereka bersama-sama. Lalu tiba-tiba bos dari kedua penjahat itu datang dan sempat mengancam mereka dengan pistol. Tetapi April mengatakan bahwa jika bos penjahat tersebut benar-benar berani, maka ia menantang untuk melawan satu lawan satu.

Sang bos penjahat setuju jika ia diminta untuk melawan salah satu dari mereka, lalu ia memilih Amin untuk menjadi lawannya. Pada awalnya teman-teman Amin meragukan apakah dengan tubuh Amin yang kecil itu bisa mengalahkan si bos penjahat yang tubuhnya besar dan kekar. Tapi siapa disangka ? Amin bisa mengalahkan bos penjahat itu. Namun ternyata siapa sangka? Pengusa sebenarnya dari komplek yang mereka tinggali itu bukanlah para mavia tersebut. Namun yang berkuasa sebenarnya adalah seorang pria bertubuh tunggi dan berambut jarang bernama Doyok. Ketika Doyok datang, ia mengancam mereka agar tidak pergi kabur dari komplek itu. Walhasil, merekapun tidak jadi melarikan diri dari komplek yang kumuh itu.